Pilih jadi Job-Seeker atau Job-Owner?? (Berita Cetak)
SEMARANG, Rabu
- Pilihan untuk
menjadi Job-seeker atau Job-owner menjadi sebuah problema bagi
para mahasiswa setelah lulus. Apakah mereka akan menjadi pekerja kantoran saja
atau pengusaha?
Job-seeker adalah istilah atau label
yang dikenakan oleh seseorang yang belum mendapatkan pekerjaan atau sudah
memiliki pekerjaan dan berusaha mencari pekerjaan sesuai dengan minat, background pendidikan, maupun dengan
bakat kemampuan yang dimiliki dengan cara mengumpulkan sebanyak-banyaknya
informasi mengenai perusahaan yang diminati maupun meminta informasi maupun
bantuan kolega yang dimiliki. Atau dapat diartikan pula sebagai seseorang yang setelah
kuliah lebih memilih untuk mencari suatu pekerjaan daripada membuka usaha
sendiri. Sedangkan istilah Job-owner
atau Job-creator merupakan seseorang
atau badan yang menyediakan lapangan pekerjaan. Bukan hanya pemerintah yang
seharusnya menyediakan lapangan pekerjaan atau membuka lapangan kerja baru,
akan tetapi kita juga bisa menjadi seorang Job-owner
dengan membuka usaha dan menarik beberapa karyawan dalam usaha kita. Job-owner
ini biasa dikenal dengan sebutan pengusaha atau wirausaha.
Saat
ini untuk menjadi seorang wirausahawan bukanlah hal yang sulit, dengan kemajuan
teknologi semakin mempermudah seseorang untuk menjadi seorang wirausahawan.
Sebagai contoh usaha yang sudah menjadi tren saat ini adalah penjualan dan
pembelian barang secara online. Penjualan dan pembelian barang secara online
ini memberikan keuntungan bagi pihak penjual maupun pembeli. Keuntungan yang
didapatkan penjual dari perdagangan online ini yaitu seorang penjual tidak
memerlukan lokasi atau tempat tertentu untuk mempromosikan barang dagangannya
cukup dengan mempromosikan barang dagangannya melalui media sosial seperti
facebook, twitter, instagram, dll, sehingga hal tersebut dapat menghemat biaya
bagi si penjual.
Perbedaan
seorang Job-creator dan Job-seeker, yaitu jika sebagai Job-creator dapat membuka lapangan
pekerjaan, mandiri & independen, bebas, lebih kreatif dan dinamis.
Sedangkan jika sebagai Job-seeker,
maka terikat waktu dan tugas, tidak independen, terkungkung & terkekang,
dan hanya menjadi "pelayan" bagi atasan.
Dari
penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa menjadi Job-owner atau Job-creator jauh lebih baik dibandingkan
menjadi Job-seeker. Hal tersebut
dikarenakan menjadi Job-owner dapat
mendatangkan manfaat bagi diri sendiri, orang lain, maupun negara.
Manfaat yang didapat untuk diri sendiri yaitu menjadi seseorang pribadi yang
lebih mandiri dan lebih bertanggung jawab serta yang lebih penting adalah Job-owner dapat membiayai hidupnya
sendiri sehingga tidak menjadi beban bagi orang lain. Manfaat yang didapatkan
orang lain yaitu menciptakan lapangan pekerjaan bagi mereka yang pengangguran
dengan kemampuan yang terbatas. Sedangkan manfaat bagi suatu negara yaitu Job-seeker dapat menjadikan suatu negara
menjadi lebih maju, mandiri dan bermartabat.
Namun,
dari hasil survei yang dilakukan kepada 30 mahasiswa (26/09/18), menghasilkan bahwa 63,3% dari mereka memilih untuk
menjadi Job-seeker. Seperti yang
dikatakan oleh salah satu responden, Ahmad Mulyadi (Mahasiswa, 19th) “Milih
jadi Job-seeker, karena pengen kerja
sesuai passion dulu biar ilmu di
kuliah bisa kepake gitu”
Sedangkan
sisanya yaitu 36,7% memilih untuk menjadi Job-owner.
Salah satu responden, Endivi (19th), mengatakan “Aku pengen buka ladang
pekerjaan untuk orang lain. Disamping itu aku pengen kerja yang sesuai sama
diriku, kalau aku kerja sama orang lain kan aku yang diatur. Enaknya punya
usaha sendiri itu ngga terikat sama apapun”.
Kenyataan
bahwa sebagian besar lulusan Perguruan Tinggi adalah lebih sebagai pencari
kerja (Job-seeker) daripada pencipta
lapangan pekerjaan (Job-creator)
merupakan salah satu penyebab tingginya angka pengangguran berpendidikan
tinggi. Hal ini dimungkinkan karena sistem pembelajaran yang diterapkan di
perguruan tinggi saat ini lebih terfokus pada bagaimana menyiapkan para
mahasiswa yang cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan, bukan sebagai lulusan
yang siap bekerja dengan menciptakan pekerjaan. Selain itu secara umum
aktivitas kewirausahaan mahasiswa relatif masih rendah.
Sumber
lain yang saat ini sudah menjadi pengusaha, Riri Novita, berpendapat bahwa
“Dengan menjadi Job-owner bisa
memberikan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Kalau kita jadi Job-seeker akan
bergantung pada perusahaan. Jadi fungsinya bisa 2x lipat lebih baik menurutku”
Sedangkan,
Marizkia Uli Alfiana, sebagai pekerja di salah satu Bank konvensional berkata
“Aku serasa punya passion tapi belum
pasti passion itu pas buat aku atau
ga. Daripada habis lulus wasting time
mikirin aku harus gimana, mending do
something aja dulu.”
Ia
menambahkan pula “Jadi intinya cari pengalaman dulu, di dunia yang menurut aku
mungkin bisa menunjang karir aku kedepan. Even
ke depan mau berkarir jadi employee
yang punya jabatan baik atau pun jadi entrepreneur
yang sudah punya banyak channel
yang didapet dari kerjaan aku sekarang. Karena aku belum punya pondasi kuat
juga buat jadi Job-owner jadi aku
ambil apa yang memungkinkan dulu”.
Dari
penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa semua pilihan ada ditangan kita dan
kita sebagai masyarakat Indonesia harus sadar betul dengan kondisi perekonomian
yang ada saat ini. Janganlah menambah beban negara dengan menjadi pengangguran
tapi mari kita bersama-sama dan bekerja keras untuk menciptakan perekonomian
yang dapat men-sejahterakan seluruh rakyat Indonesia, baik melalui Job-seeker ataupun Job-creator.









0 Response to "Pilih jadi Job-Seeker atau Job-Owner?? (Berita Cetak)"
Posting Komentar